Menyiasati Anggaran Rumah Tumbuh

Menyiasati Anggaran, Rumah Tumbuh Daur Ulang Nusya Kuswantin Begitulah judul resep menyiasati kesumpekan anggaran dalam membangun rumah yang selama ini telah diterapkan oleh banyak warga negeri ini, terutama di daerah. Sembari ditempati, rumah diperluas dan disempurnakan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan keuangan. Memang akan butuh waktu agak lama sampai rumah tampak benar-benar sempurna, tetapi cara ini banyak ditempuh karena secara ekonomis dianggap lebih realistis dibandingkan, misalnya, apabila setiap tahun harus mengeluarkan dana yang juga besar untuk membayar sewa rumah. Menyukai kondisi Orang-orang yang perfeksionis, yang cenderung menyukai kondisi yang serba rapi, atau orang yang kurang bisa bertoleransi terhadap situasi darurat yang terus-menerus dalam waktu lama, mungkin tidak menyukai ide rumah tumbuh perlahan-lahan seperti ini. Karena dalam waktu beberapa tahun pemandangan rumah akan tampak menyebalkan dengan adanya bagian-bagian rumah yang belum sempurna, dan di sana-sini kemungkinan akan didapati tumpukan bahan-bahan bangunan. Pemandangan seperti ini bagi sementara orang mungkin saja bisa menjadi penyebab stres. Tetapi sebaliknya, membangun dengan cara mencicil sedikit demi sedikit ini bisa menjadi aktivitas jangka panjang yang mengasyikkan bagi orang-orang yang senang keterampilan bangunan atau orang-orang yang suka terlibat langsung dalam proses pengerjaan rumahnya. Khususnya acara berburu bahan-bahan bangunan bekas—yang masih bisa didaur ulang—bisa menjadi petualangan tersendiri yang tak kalah menarik. Pasangan Nugroho dan Asri, warga kampung Wirengan, Solo, telah beberapa tahun terakhir ini berburu bahan bangunan bekas, bahkan sampai ke Jakarta. Bukan hanya kusen, daun pintu, dan daun jendela kayu jati saja yang telah mereka kumpulkan sedikit demi sedikit. Bahkan mereka juga membeli genteng dan keramik bekas. Pasangan tersebut mulai menambah ruangan di rumah mereka tahun ini ketika aneka bahan dan tabungan sudah cukup terkumpul. ”Ini genteng bekas,” ujarnya sambil menunjuk genteng yang tampak seperti baru. Ia mengaku telah mencuci dan menggosok genteng bekas itu satu per satu dengan sikat hingga tampak seperti baru kembali. ”Genteng bekas ini kualitasnya sangat baik. Entah sudah berapa puluh tahun usianya. Saya mendapatkannya di lokasi bangunan yang dibongkar,” tambahnya. Ia memanfaatkan lantai keramik bekas yang tidak utuh lagi sebagai lantai mosaik untuk beranda dan taman. ”Memang agak njlimet pengerjaannya, dan yang begini ini harus saya tangani sendiri agar sesuai selera,” lanjutnya. Pengerjaan rumah Dari cara mereka bercerita yang penuh antusiasme tampak bahwa pasangan Nugroho dan Asri menikmati keterlibatan mereka dalam pengerjaan rumah tumbuh daur ulang mereka. Tentu tak seluruhnya menggunakan bahan bekas. ”Saya juga mengumpulkan engsel, handel pintu, dan kunci serta selot jauh-jauh hari. Saya suka mampir ke toko bangunan dan melihat-lihat kalau ada yang cocok di hati maka saya beli,” katanya. Bangunan awal Bagian yang perlu dibangun paling awal adalah bangunan induk atau ruang yang letaknya dianggap sebagai titik awal bangun serta fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus). Asalkan bangunan ini telah berdiri dan ada genteng di atasnya—syukur-syukur apabila bagian lantai bisa diplester dengan semen—maka ini sudah bisa dianggap layak huni. Tak perlulah tembok dipelur terlebih dahulu apabila dana tidak memungkinkan karena memelur tembok bisa dilakukan sembari rumah ditempati. Bisa pula untuk selamanya tembok tak perlu dipelur dengan adonan semen dan pasir, dan ini akan memberikan kesan rumah model country asalkan batu batanya berkualitas baik (kuat, padat, tidak mudah pecah, permukaannya halus, dan tidak berpori). Demikian juga dengan adonan semen pasir perekat batu batanya memiliki komposisi yang cukup baik sedemikian rupa sehingga tidak mrotoli atau rapuh dan tidak berpori apabila sudah kering. Ruang atau bagian yang lain dibangun menyusul apabila memang bahan-bahan dan dana, paling tidak untuk membuat satu ruangan tambahan, sudah mencukupi. ”Beginilah cara kami membangun rumah,” kata Nugroho, seolah mengingatkan bahwa membangun rumah adalah mungkin, kendati tak suka berutang. Yaitu dengan memanfaatkan bahan bangunan bekas yang harganya relatif jauh lebih murah daripada bahan baru harga toko, serta membuat perencanaan membangun satu ruangan per satu ruangan secara bertahap.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s