Siapa Sanggup Beli Rumah di Jakarta

Tengoklah iklan properti hunian di koran atau televisi. Iklan pembangunan apartemen baru yang cuma berjarak 10 meter dari Bundaran HI misalnya, mematok harga mulai dari Rp 400 juta. Dengan harga hunian sebesar itu seakan keinginan hidup di tengah kota dapat terwujud. Padahal uang ratusan juta itu ‘hanya’ membeli hunian dengan satu kamar tidur. Tidak jauh beda sempitnya dari rumah petak di kolong tol.

Bagaimana dengan rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Seorang kenalan yang memiliki rumah di depan Taman Lembang, Menteng, seluas 300 meter persegi saja menjualnya dengan harga Rp 1,2 miliar. Itu harga jual 10 tahun lalu. Harga per meternya sekarang cuma bisa difantasikan mereka yang ‘pemberani’ atau yang punya banyak simpanan di bank. Gambaran seperti itu tampaknya memang cuma kaum berduit saja yang mampu membeli properti di Jakarta apapun bentuknya, rumah atau apartemen. Masyarakat golongan menengah terpaksa menyingkir dan tinggal di kawasan perumahan di pinggiran Jakarta.

Sementara kalangan masyarakat yang hidup pas-pasan terpaksa memutar otak mencari kemungkinan berteduh di Jakarta. Hidup di kolong jembatan sampai di tengah tumpukan sampah pun dilakoni. Tidur, mandi, makan, hingga bermimpi di sana. Pemprov DKI Jakarta memang kesulitan memenuhi kebutuhan perumahan bagi warganya dari kalangan ekonomi lemah. Penyediaan perumahan oleh pemerintah daerah hanya disanggupi 10 persen dari total kebutuhan.

Setiap tahun rata-rata kebutuhan perumahan warga Jakarta mencapai 11.300 unit. “Tahun ini cuma 1.100 unit yang dapat dibangun pemprov,” ujar I Putu Indiana, kasubdis Perencanaan Dinas Perumahan DKI Jakarta, Kamis (6/9). Anggaran pembangunan perumahan dari kantong APBD dikatakan Putu sangat kecil. “Dua persen,” katanya. Atau sekitar Rp 400 miliar. Jumlah itu sudah mencakup pembebasan lahan sampai pembangunan rumah.

Pemprov kemudian menggantungkan pada pemerintah pusat dan pengembang untuk menyediakan rumah bagi masyarakat. Untuk masyarakat golongan menengah ke bawah pembangunan rumah susun (rusun) menjadi urusan pusat dan pengembang. Kewajiban pemerintah daerah di bidang itu adalah mencarikan lahan yang sesuai.

Berdasarkan rencana pembangunan, tahun ini, pemprov sedianya membangun 1.060 unit rusun. Yakni 400 unit di Jakut dan sisanya di Jaktim. Contohnya adalah Rusun Marunda yang ditargetkan rampung akhir tahun ini. “Juga penyelesaian 100 unit di Pulogebang tahun ini,” katanya. Saat ini sudah terdapat 23.182 unit rusun yang tersebar di lima wilayah Jakarta. Sejak tahun 1985 hingga 1997 terbangun 15.703 unit rumah susun. Wilayah Jakpus menjadi wilayah dengan rusun terbanyak.

Setelah Sutiyoso menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta terdapat penambahan 7.479 unit rumah susun. Rinciannya, 1.088 unit dibangun dari 1998 sampai 2006 di Jakpus. Lalu 3.205 unit di Jakut, 1.460 unit di Jakbar, 200 unit di Jaksel, dan 1.526 Jaktim. Untuk meningkatkan minat pengembang membangun rumah susun bagi masyarakat menengah ke bawah, Pemprov menyiapkan sejumlah insentif. “Dan penyediaan sarana serta prasarana,” ujar Kasubdis Perencanaan Pengembangan Ruang Kota Dinas Tata Kota DKI Jakarta, Suhardyoko.

Kendati memeroleh kemudahan lewat insentif, pembangunan rumah susun tetap tidak mudah karena terbentur minimnya lahan. Upaya meremajakan lahan kumuh pun sulit dikerjakan sehingga pembangunan rumah susun terkesan tersendat-sendat.

Catatan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta sampai tahun 2010 menyebutkan keharusan terpenuhinya 44,82 persen wilayah Jakarta sebagai kawasan pemukiman. Namun, kata Suhardyoko, baru sekitar 30 persen dari target lahan yang sudah difungsikan sebagai kawasan pemukiman. Sisanya, ucap dia, masih menjadi lahan milik warga yang harus dibebaskan dulu oleh pemerintah sebelum diubah fungsinya sebagai daerah tempat tinggal sesuai ketentuan. Padahal proses pembebasan lahan tidak pernah mudah dan cepat. Jadi, siapa sanggup beli rumah di Jakarta?

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s